Minggu, 15 November 2015

PESTA BOLA PIALA PRESIDEN VS KABUT ASAP


TULISAN 2


       Jelang Final Piala Presiden kondisi Ibu Kota Jakarta memanas. Polda Metro Jaya menetapkan status pengamanan siaga satu untuk pengamanan pertandingan final sepak bola Piala Presiden di Stadion Utama Gelora Bung Karno Tanggal 18/10/2015. Status ini sudah diberlakukan sejak Jumat Malam, 16 Oktober 2015 ). Polda Metro Jaya sendiri menurunkan 9.000 personel untuk mengamankan pertandingan final Piala Presiden. Selain itu, polisi juga memberlakukan Siaga 1 untuk pertandingan final ini. 

       Beberapa kejadian provokasi mulai bermunculan. Sabtu, 17/10/2015 Sebuah mobil Jeep tak luput dari sasaran sekelompok massa beringas yang meresahkan dini hari tadi. Jeep bernomor polisi dari kawasan Bandung Jawa Barat ini ‘babak belur’ kena timpuk batu. Di hari yang sama  puluhan pemuda berkumpul di pinggir ruas Tol Jagorawi yang mengarah ke Jakarta. Mereka melempari kendaraan yang melintas. Menurut petugas PJR Tol Jagorawi Aiptu Tawar Mereka melempari mobil pelat D (Bandung)

       Di tempat jauh disana, di Sumatera dan Kalimantan, sebagian warganya masih dalam kondisi memprihatinkan. Banyak wilayah yang diselimuti kabut asap. Warga berteriak di media sosial menyuarakan kondisi mereka yang seolah kurang diperhatikan. Warga cemburu terhadap penanganan pemerintah yang begitu sigap dengan pertandingan sepak bola, namun seolah tutup mata dengan kondisi kabut asap. Mereka menyindir status siaga satu supporter bola dengan beragam tanggapan. Berikut suara warga beberapa wilayah menyuarakan sikap mereka menyikapi siaga satu pertandingan sepak bola  dari tagar #MelawanAsap:

Bagus Lim ‏@smokeygg_  (18/10/2015) JKT “Siaga Satu” cuma karna Bola(?) #Alay Apa kabar RIAU #MelawanAsap? daripada Perang Saudara mending bantu yang Bencana Asap, Coeg!!!

regga rahmad igarta ‏@kisfendie (18/10/2015) Apa kalau asap nyampe jakarta dulu, baru bisa jadi siaga satu juga? #MelawanAsap

Farhan Imaddudin ‏@farhanbing  (18/10/2015) Cuma gara gara bola, jakarta siaga satu. Terus di sumatera-kalimantan siaga berapa???#MelawanAsap #sepakbolaindonesia #NegaraLagiNgelawak

Jafar Shadiq ‏@JShadiq99  (18/10/2015) Persib vs Sriwijaya, jakarta siaga 1, Sumatera n Kalimantan darurat asap siaga brpa ya? #melawanasap#savekalimantansumatera

Nasrullah ‏@Naszubeiry (18/10/2015) Negara nurunin 7.000 personel untuk #melawanasap & 10.000 personil untuk final #sepakbola. Artinya?

Muhammad Aldy ‏@Aldy_Almahfudzi  (18/10/2015) Apalagi bantu#MelawanAsap :) “@iwanfals: ya, apapun hasilnya lebih hebat lagi klo bobotoh & wong kito habis tanding lsg bersih2 sampahnya”

Memang penetapan siaga satu status keamanan suatu wilayah dengan status bencana tidaklah sama. Ini bukan analogi aple to aple. Tapi empati terhadap warga yang berada di wilayah kabut asap tidak boleh hilang akibat isu kerusuhan sepak bola. Masih banyak wilayah di Indonesia yang kabut asapnya tidak bisa ditangani. Warga khususnya yang berada di wilayah yang dilanda kabut asap wajar untuk cemburu karena mereka berharap hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah terhdap ibu kota.


PENDAPAT 

Dari tulisan di atas saya beranggapan dan berpendapat bahwa tindakan pemerintah untuk melakukan Siaga 1 hanya untuk pertandingan sepak bola final piala presiden dikarenakan untuk menghabiskan Dana APBN sehingga dialokasikan untuk pengamanan daerah yang harus habis di akhir tahun 2015 ini, Sehingga tidak timbul pemikiran negative masyarakat terhadap pemerintah daerah bahwa dana APBN yang tersisa di korupsikan oleh pegawai pemerintah daerah. 

Kemudian untuk asap Riau saya beranggapan dan berpendapat bahwa tindakan pemerintah yang tidak tegas dalam menghadapi bencana kabut asap dikarenakan banyak faktor yang dihadapi pemerintah Indonesia yang pertama ialah Dampak El-nino sehingga cuaca di daerah kabut asap sangat panas itu yang mengakibatkan lahan dan hutan terus terbakar dan sulit untuk dipadamkan, lalu faktor kedua ialah Pemberian konsensi 4,8 juta hektar lahan gambut setinggi 4-5meter yang mudah terbakar jadi penyebabnya dan itu sulit untuk dihentikan dikarenakan pihak swasta sudah menandatangani perjanjian kepada pemerintah daerah untuk membakar lahan dan hutan bersifat legal serta mempunyai hukum yang kuat.

Solusi untuk masalah ini menurut pendapat saya ialah ada 3 (tiga) yaitu:

Yang pertama adalah pengambilalihan kembali konsensi 4,8 juta lahan gambut dari pihak perusahaan swasta kepada pemerintah Indonesia,sehingga pemerintah bisa menghentikan kabut asap yang semakin hari asap semakin pekat yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat wilayah Riau, Jambi dan sekitarnya, namun pemerintah harus kehilangan para investor asing dari pihak perusahaan swasta yang mengakibatkan penambahan pendapatan dari sektor pajak berkurang.

Yang kedua adalah hujan yang turun secara alami sehingga apabila terjadi hujan maka lahan gambut serta hutan luas yang sangat sulit untuk dipadamkan’sedikit dapat terminimalisir, namun pada kenyataannya sampai sekarang hujan belum sama sekali turun, justru malah dampak el-nino dan kekeringan terus terjadi di Indonesia.


Koalisi pemantau pengrusakan hutan di Riau mengatakan, pemerintah juga dapat memberikan sanksi lebih tegas dengan membawa kasusnya ke pengadilan serta mewajibkan perusahaan-perusahaan tersebut membayar ganti kerugian kepada warga yang terdampak kabut asap.
 

SUMBER :

http://print.kompas.com/baca/2015/09/05/Kabut-Asap-Sudah-Darurat
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar